"SOFTWAE DAN INFORMASI INTERNET"
SOFTWARE DAN INFOMASI INTERNET

Rabu, 25 April 2012

Total Video Converter

Meneruskan request bang Royan USPC, berikut saya postingkan tentang Total Vide Converter. Total Video Converter ini saya rasa sudah cukup kalau hanya sekedar untuk convert file media dan atau untuk memotong lagu atau film. Format hasil konversinya juga lumayan beragam dengan pengelompokan pada: Mobile, Ms. AVI, Wet, MPEG, Quicktime, dan Audio. Tentunya dari kelompok-kelompok itu kita tinggal pilih mau format apa saja, misalnya Audio: mp2, mp3, wav, ogg, dan lain sebagainya.


 


Cara menggunakannya:

Pilih "New Task", lalu Import Files. Browse file yang akan dikonversi. Pilih format yang diinginkan. Setting jika diperlukan. Lalu, Convert Now. Hasilnya tergantung folder yang kita pilih kalau disetting ulang. Kalau menggunakan setting default, maka file hasil konversi akan ditaruh di folder "C:\Program Files\Total Video Converter\Converted" .

Ok, segitu saja rasanya sudah cukup jelas. Berikut file installasi Total Video Converter versi 3.10

Semoga bermanfaat. Use it on your own risk!

NB:
Maaf filenya saya upload di Ziddu ya, soalnya tidak ada tempat lain nih yang paling cocok. Untuk donlot file di Ziddu biar aman fokus saja pada file yang akan didownload, jika muncul pop-up iklan tutup saja.
download sofware
READ MORE - Total Video Converter

pemainan ABOO Plume boom

READ MORE - pemainan ABOO Plume boom

Kamis, 19 April 2012

Mendoakan Pemimpin



Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 12:5
============================
"Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah."

mendoakan pemimpinSeringkali sebagai jemaat kita bersikap manja dan mementingkan diri sendiri, lalu mengeksploitasi gembala kita secara berlebihan. Kita akan menyibukkan mereka disaat kita butuh bantuan atau nasihat tanpa mempedulikan kesibukan atau keadaan mereka. Begitu banyak yang harus dilayani, bahkan hal-hal yang kecil pun dibebankan kepada mereka. Jika mereka belum punya cukup waktu? Jemaat seringkali menuduh mereka sombong, pilih kasih atau tuduhan-tuduhan lainnya. Banyak jemaat yang malas berdoa sendiri dan kemudian meminta pemimpinnya untuk melakukan itu bagi mereka. Mereka ingin didoakan, tapi mereka tidak pernah terpikir untuk mendoakan gembala, para pengerja atau pemimpin mereka. Betapa tidak adil jika ini yang kita lakukan. Firman Tuhan mengingatkan kita agar mau saling mendoakan satu sama lain, tetapi tidak banyak orang yang mengingat hal ini apalagi mau melakukannya. Sudah habis-habisan meluangkan waktu, masih saja dituduh macam-macam. Jika anda menjadi mereka, apa yang akan anda rasakan?

Banyak orang berpikir seenaknya secara sempit dan menganggap menjadi seorang gembala atau pemimpin itu enaknya bukan main. Mereka terkenal dan dihormati orang. Populer di kalangan jemaat, sepintas memang terlihat menyenangkan. Tapi cobalah pikirkan beratnya beban tugas mereka. Itu jauh lebih besar dari sekedar popularitas semata. Berapa banyak jemaat yang harus mereka tuntun? Lima puluh? Seratus? Lima Ratus? Seribu? Itu baru jumlah. Jemaat-jemaat punya masalah yang berbeda-beda, dan mungkin tidak hanya satu. Itu baru tugas mereka dalam menggembalakan jemaat. Bagaimana dengan kehidupan mereka di luar tugas sebagai gembala? Gembala juga punya keluarga yang harus diurus. Istri, anak, orang tua, saudara, semua itu seringkali membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit. Bagi para gembala yang tidak full time, bagaimana dengan pekerjaan mereka? Itu juga tidak ringan. Lihatlah bagaimana sulitnya menjadi gembala. Waktu mereka bisa begitu tersita, sehingga mereka mungkin harus mengorbankan waktu-waktu berkumpul bersama anggota keluarga. Sekuat-kuatnya manusia, ada saat dimana kita menyentuh titik lemah. Kecapaian, sakit, burn out, dan lain-lain. Sebuah kelelahan saja bisa membuat orang kehilangan banyak hal. Sulit konsentrasi, kehilangan semangat atau gairah, ujung-ujungnya itu bisa membuat orang gampang jatuh sakit. Sekuat-kuatnya stamina pemimpin kita, sehebat-hebatnya mereka, mereka tetaplah manusia yang sama seperti kita. Manusia yang terbatas. Maka jelas, gembala atau para pengerja dan pemimpin pun butuh doa agar mereka menjadi lebih kuat, lebih sabar, lebih tabah, lebih kokoh sehingga anggota yang dituntunnya bisa bertumbuh dengan baik. "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  demikian kata Firman Tuhan dalam Yakobus 5:16. Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia akan selalu mendengar doa anak-anakNya, bukan hanya gembala atau pemimpin saja, selama seseorang itu taat dan setia dan tidak memberi toleransi terhadap dosa. Kita butuh doa, mereka pun sama. Dan doa dari jemaat atau anggota yang menjaga hidup dengan benar dikatakan sangatlah besar kuasanya. 

Kita bisa melihat satu contoh besarnya dan pentingnya kuasa doa yang ditujukan kepada gembala atau pemimpin rohani, yaitu dalam Kisah Para Rasul 12:1-19. Pada waktu itu Herodes mulai bertindak keras terhadap orang percaya. Pada suatu waktu ia memerintahkan kepada algojo untuk menghabisi nyawa Yakobus dengan pedang. Yakobus pun kemudian tewas sebagai martir. Demi melihat perilaku jahatnya ternyata disukai orang Yahudi, maka Herodes pun ketagihan melanjutkan perbuatannya dengan menahan Petrus. Petrus pun ditangkap. Tapi untung bagi Petrus, hari itu jatuh kepada Hari raya Roti Tidak Beragi, sehingga Petrus tidak langsung diadili untuk kemudian dihukum mati. Sebagai gantinya, Petrus dijebloskan kepenjara dan dijaga oleh 4 regu yang berisi 4 prajurit pada masing-masing regu. Enam belas orang menjaga satu orang. Mengapa? Karena Herodes tidak ingin ada apa-apa terjadi pada Petrus sebelum dia diadili di depan rakyatnya. Ia ingin kembali dipuja orang-orang Yahudi dengan membunuh seorang lagi murid Kristus. Apa yang akan terjadi atas diri Petrus sudah jelas. Hukuman mati telah menanti. 

Tapi perhatikan apa yang terjadi. "Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah."(Kisah Para Rasul 12:5). Jemaat yang digembalakan Petrus ternyata tidak tinggal diam. Mereka berkumpul dan terus menerus berdoa dengan sungguh-sungguh untuk gembalanya. Dan keajaiban pun terjadi. "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus." (ay 7). Lihatlah bahwa Tuhan mengutus malaikat untuk melepaskan Petrus. Petrus pun segera mengikuti malaikat itu meski masih bingung tentang apa yang sedang terjadi, apakah itu nyata atau cuma mimpi. Baru setelah sampai di luar di tempat yang aman dan malaikat itu meninggalkannya, ia baru sadar mengenai apa yang terjadi. "Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi." (ay 11). Lihatlah betapa besarnya kuasa doa yang terlahir dari sekumpulan orang benar untuk pemimpin mereka.

Inilah kuasa doa yang sesungguhnya. Ada banyak orang yang mengira bahwa doa yang dijawab hanyalah doa para pemimpin rohani. Doa mereka tidak akan manjur karena mereka hanyalah jemaat biasa. Tapi dari kisah di atas kita tahu itu keliru. Doa jemaat pun dikabulkan Tuhan asal mereka hidup sebagai orang benar. Lalu kita pun bisa melihat bagaimana pentingnya mendoakan para gembala, pengerja dan semua pemimpin kita. Tugas yang mereka emban sesungguhnya tidaklah mudah. Mereka dengan tekun selalu mendoakan anda para jemaat dan melayani anda dengan sebaik-baiknya di samping kesibukan mengurus keluarga dan bekerja yang harus pula mereka jalankan. Waktu mereka sama seperti kita, 24 jam sehari. Mereka pun bisa jatuh sakit bahkan tergelincir sama seperti kita. Mereka mendoakan anda, pertanyaannya sekarang: sudahkah anda balik mendoakan mereka? Kita sering lupa bahwa kita pun mempunyai tugas untuk mendoakan para pemimpin. Apa yang diajarkan Tuhan adalah saling mendoakan (Yakobus 5:16), termasuk mendoakan para pemimpin. (1 Timotius 2:1-2). Bahkan selanjutnya firman Tuhan mengatakan bahwa "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita". (ay 3). 

Selain mendoakan, kita pun harus ingat untuk mau mematuhi mereka. Terus menentang dan membangkang akan membuat pekerjaan mereka yang sudah sulit menjadi jauh lebih sulit lagi. Pada akhirnya, kita sendiri juga yang akan rugi. Firman Tuhan mengenai hal itu berbunyi demikian: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Para pemimpin kita pun juga manusia. Sekuat-kuatnya mereka, ada saat-saat dimana mereka lemah. Timbunan pekerjaan dan pelayanan bisa membuat mereka jatuh sakit, kehilangan semangat, kecapaian atau mengalami kejenuhan. Di saat-saat seperti ini peran kita sangatlah dibutuhkan. Doakan dan dukung mereka agar Tuhan selalu menguatkan mereka dan menambah hikmat atas mereka. Alangkah indahnya hubungan dalam gereja yang terdapat saling doa diantara para pemimpin dan jemaatnya. Paulus menyadari pentingnya doa para jemaat bagi pemimpin seperti dia. Lihatlah apa seruannya kepada jemaat di Tesalonika. "Saudara-saudara, doakanlah kami." (1 Tesalonika 5:25). 

Ambillah waktu dan mulailah mendoakan para pemimpin kita. Siapa tahu, mungkin saat ini mereka sangat membutuhkan dukungan doa dari kita sekalian. Mereka melakukan tugasnya, sekarang giliran kita. Doakan mereka agar senantiasa berjalan sesuai visi Tuhan, doakan agar mereka beroleh kekuatan, perlindungan, kesehatan dan lain-lain agar mereka dapat tetap menjalankan tugas berat mereka dalam keadaan baik, sehat dan penuh sukacita.

Gembala mendoakan jemaat, jemaat mendoakan gembala. Saling mendoakan, itulah yang baik dan berkenan kepada Allah
READ MORE - Mendoakan Pemimpin

Senin, 19 Maret 2012

Renungan harian Sikap Acuh Tak Acuh

Ayat bacaan: Zefanya 2:1-2
==================
"Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN."

sikap acuh tak acuhSukakah anda melihat orang yang acuh tak acuh ketika anda mengajaknya berbicara? Acuh tak acuh adalah sebuah sikap yang tidak serius dalam mengerjakan atau menanggapi sesuatu. Orang dengan sikap seperti ini bisa cuek terhadap lawan bicaranya dan menunjukkan ketidaktertarikannya lewat sikap dan air muka. Mereka tidak memperhatikan apa yang dikatakan, bahkan memandangpun bisa jadi tidak. Mereka biasanya bersikap kurang bersahabat, dingin dan sebagainya. Secara fisik mereka ada di depan kita, tetapi pikiran mereka melayang kemana-mana. Berbicara kepada orang dengan tipe seperti ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan tidak jarang mereka menimbulkan rasa sakit hati bagi lawan bicaranya. Jika kita sebagai manusia saja jengah berhadapan dengan orang-orang yang sikapnya acuh tak acuh, apalagi Tuhan. Dia tidak suka jika kita bersikap seperti itu kepadaNya. Setelah segala kebaikan dan kemurahan Dia curahkan tanpa henti kepada kita, ketika keselamatan Dia anugerahkan justru disaat kita masih berselubung dosa, tidakkah keterlaluan apabila kita masih sanggup bersikap acuh tak acuh terhadapNya?

Orang akan begitu rajin berdoa jika berada dalam keadaan terjepit. Mereka mudah berseru pada Tuhan bahkan disertai ratap tangis. Namun ketika Tuhan mengulurkan tanganNya dan melepaskan dari masalah, mereka pun segera melupakan Tuhan dan sibuk dengan dunia masing-masing. Mungkin berterimakasih, tetapi itu pun tidak bertahan lama. Doa menjadi semakin jarang dengan beragam alasan. Buat apa? Toh semuanya baik-baik saja. Begitu mungkin pikir mereka. Apalagi jika diminta untuk terlibat dalam pelayanan, seribu satu alasan pun tiba-tiba bermunculan untuk menolak. Begitu seringnya anak-anak Tuhan terlena dalam kenyamanan dan kemudian melupakan Tuhan, namun kembali datang ketika masalah kembali muncul. Itupun mungkin hanya sebagai alternatif terakhir bila tidak ada lagi kekuatan atau orang yang bisa diandalkan. Begitu seterusnya. Tuhan hanya dijadikan sebagai alat penolong dan tempat mengemis, tidak lebih, tidak kurang. Sikap seperti ini tidaklah berkenan di hadapan Tuhan.

Bangsa Israel dahulu kala sering menunjukkan sikap seperti ini. Hati mereka dengan Tuhan begitu cepatnya berubah-ubah. Mereka dengan mudah menangis meminta pertolongan, berseru-seru pada Tuhan, namun ketika pertolongan datang, sesaat kemudian mereka sudah menunjukkan sikap tidak puas dan kembali bersungut-sungut. Pada saat-saat tertentu mereka memuliakan Tuhan, namun sesaat kemudian mereka kembali bersikap acuh tak acuh. Lebih parah lagi, mereka tega menduakan Tuhan dengan ikut-ikutan menyembah dewa-dewa. Sikap seperti ini sangat tidak disukai Tuhan. Maka melalui Zefanya Tuhan memberi teguran keras. "Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN." (Zefanya 2:1-2). Ini teguran sangat keras yang dijatuhkan kepada sebuah bangsa yang tidak tahu terima kasih. Walaupun sudah berulangkali mengalami kuasa Tuhan, begitu banyak mukjizat yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, tetapi mereka masih juga menunjukkan perilaku tidak terpuji dalam berbagai hal. Kalaupun mereka beribadah, seringkali itu hanya seremonial atau rutinitas semata. Untuk masalah ini pun Tuhan pernah menegur tak kalah keras. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Hal-hal yang ajaib atau keajaiban yang menakjubkan disini bukan hal-hal yang baik atau positif, tapi yang buruk. Dalam versi BIS diterjemahkan sebagai "pukulan bertubi-tubi". Sangatlah tidak pantas memperlakukan Tuhan yang luar biasa baik dan begitu mengasihi kita dengan sangat setia dengan cara yang acuh tak acuh alias tidak serius sepenuh hati seperti ini.

Dalam Wahyu teguran yang keras juga dialamatkan kepada jemaat di Laodikia. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sikap suam-suam kuku kurang lebih sama dengan sikap acuh tak acuh. Sikap seperti ini bisa mendatangkan murka Tuhan, dan itu wajar mengingat betapa baiknya Tuhan kepada kita. Hari-hari ini ada banyak diantara anak-anak Tuhan yang tidak lagi memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan. Ada banyak diantara mereka yang lebih mementingkan perkara duniawi ketimbang melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan, atau untuk bersekutu intim dengan Tuhan sekalipun. Mereka melayani bukan karena mengasihi Tuhan tapi karena ingin terlihat hebat dimata manusia. Sebesar apa sebenarnya porsi Tuhan dalam hidup kita hari ini? Seberapa besar kerinduan kita kepadaNya? Dimana posisi Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita mau mendengar apa kata Tuhan dengan baik atau jam-jam yang kita pakai untuk berdoa hanyalah rutinitas belaka, atau malah hanya dipakai sebagai sarana meminta? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang patut kita jadikan bahan introspeksi agar kita jangan sampai menjadi lengah dan terjatuh.

Kita harus tetap memiliki rasa takut akan Tuhan. Takut disini bukan berarti bentuk-bentukketakutan duniawi, atau takut dihukum, takut dicampakkan ke neraka dan sebagainya. Takut akan Tuhan berbicara mengenai rasa hormat kita kepadaNya. Bagaimana kepatuhan kita pada perintahNya, tidak mau mengecewakan Tuhan karena kita mengasihiNya, mengenal pribadiNya dan kerinduan untuk selalu memuliakanNya. Ini adalah bentuk rasa takut yang sehat, yang akan membawa kita lebih dekat lagi kepadaNya. Takut akan Tuhan tidak saja bisa membawa kita untuk menerima keselamatan yang kekal sifatnya, namun Tuhan juga menjanjikan kita untuk tidak akan berkekurangan, seperti apa yang dikatakan Daud. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:9). Sikap acuh tak acuh dari lawan bicara kita bisa menyakiti hati kita, tapi kita sering lupa bahwa sikap acuh tak acuh kepada Tuhan pun akan membuatNya kecewa, dan itu akan sangat menyakiti hatiNya. Jangan salahkan Tuhan jika kita akan menuai hal-hal yang buruk sebagai konsekuensinya. Oleh karena itu seriuslah dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Dengarkan baik-baik pesan dan peringatanNya, takutlah akan Dia dan taatlah dengan sungguh-sungguh. Tuhan lebih dari layak untuk itu.

Hindari sikap acuh tak acuh, seriuslah dalam membangun hubungan dengan Tuhan
READ MORE - Renungan harian Sikap Acuh Tak Acuh

renugan harian kristen Kemarahan

Ayat bacaan: Efesus 4:26-27
======================
"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."

kemarahanAkankah kemarahan membawa hasil yang positif? Kita melihat banyak orang hari-hari ini yang dengan leluasa mempertontonkan kemarahannya tanpa rasa bersalah. Mereka merasa bahwa kemarahan itu wajar, layak atau bahkan mutlak diperlukan untuk memaksakan kehendak atau keyakinan mereka. Mereka lalu merasa berhak untuk menghakimi dan membunuh orang yang berseberangan dengan mereka, dengan cara yang sangat keji. Yang lebih gila lagi, mereka mengatasnamakan Tuhan dalam melakukan itu, seolah-olah Tuhan membenarkan manusia untuk membunuh sesamanya dengan alasan-alasan tertentu. Pemaksaan dengan tekanan, ancaman atau siksaan menjadi semakin marak terjadi tanpa kontrol yang tegas. Sangat sulit mencari tempat yang benar-benar aman, karena setiap saat kita bisa menjadi korban dari orang-orang yang tidak bisa mengontrol kemarahannya.

Kemarahan membuat orang tidak lagi bisa berpikir jernih, dan pada akhirnya bukan saja kemarahan itu bisa merugikan orang lain, tetapi untuk diri sendiri pun kemarahan bisa menimbulkan banyak masalah yang pada suatu ketika kelak akan kita sesali. Benar, ada saat-saat dimana kita bisa marah, sebagai "output" dari perasaan atau emosi yang terdapat di dalam diri kita. Tetapi biar bagaimanapun kemarahan tidak dianjurkan sama sekali di dalam Kekristenan. Sedapat mungkin kita harus menghindarinya. Kalaupun memang harus marah jangan sampai kita membiarkan kemarahan itu terus menguasai diri kita berlarut-larut. Lihatlah ayat berikut ini: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan kita akan bahaya yang terkandung di balik sebuah amarah. Perhatikan, ada dosa mengintip dibalik kemarahan kita. Kemarahan biasanya masih bisa cepat diredam ketika masih baru kita rasakan, tetapi cobalah biarkan kemarahan itu bertambah besar, pada suatu titik nanti kita tidak lagi sanggup meredamnya karena sudah terlalu besar dan disanalah dosa-dosa mengintip untuk menghancurkan kita.  Kemarahan yang kita biarkan berlarut-larut akan menjadi lahan permainan yang sangat menarik bagi iblis. Itu sama dengan membuka kesempatan bagi iblis untuk menjebak dan menjerumuskan kita. Dengan membiarkan kemarahan, itu artinya kita memberi ruang gerak seluas-luasnya bagi iblis untuk menari dan berpesta pora untuk membinasakan kita.

Alkitab mengingatkan dalam begitu banyak kesempatan agar kita tidak membiarkan amarah menguasai diri kita. Daud mengingatkan: "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:8). Panas hati penuh rasa marah hanya akan mengarahkan kita masuk kepada berbagai kejahatan yang nanti akan menyusahkan kita juga. Sementara dalam Pengkotbah kita bisa melihat ayat lainnya yang berbunyi: "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." (Pengkotbah 7:9).

Jika dunia terus berpikir bahwa emosi atau kemarahan bisa menjadi solusi akan sesuatu yang lebih baik, ketika dunia menganggap kemarahan sebagai bukti dari kekuatan, kekuasaan dan bisa seolah membuat pelakunya seperti yang paling benar dunia dan akhirat, sebaliknya Yesus mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang lemah lembut di muka bumi ini. "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5). Hanya orang-orang yang lemah lembutlah yang akan memiliki bumi, kata Yesus. Orang-orang lemah lembut bukanlah orang yang lemah dan mudah menyerah. Orang yang lemah lembut adalah orang yang mau tunduk kepada otoritas Tuhan, mau menaklukkan diri sepenuhnya ke dalam rencana Tuhan dalam segala aspek kehidupan, apakah itu dalam pikiran, perbuatan, perasaan dan perkataan, dan menyerahkan sepenuhnya dalam tuntunan Roh Kudus. Salah satu contoh orang yang dikatakan lemah lembut dalam Alkitab adalah Musa. Dalam Alkitab dikatakan bahwa "Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." (Bilangan 12:3). Mengapa Musa? Tentu saja. Bayangkan pergumulan emosional yang dihadapi Musa dalam memimpin bangsa yang luar biasa keras batok kepala dan membatu hatinya selama 40 tahun. Itu tentu sangat tidak mudah. Disindir, dihina, dilawan, itu sudah menjadi makanannya sehari-hari meski bangsa yang dipimpinnya ini sudah berulang kali menyaksikan langsung bagaimana Tuhan menyertai mereka secara nyata. Tapi Musa bisa menahan diri hingga sekian lama. Apa jadinya kalau orang-orang yang gampang tersulut amarahnya untuk bertindak sadis di dunia hari ini yang memimpin mereka pada saat itu? Mungkin usia orang-orang Israel pada saat itu cuma dalam hitungan detik saja. Mereka seketika akan luluh lantak tanpa bentuk, dan itu jelas bukan merupakan suara hati Tuhan. Jika Tuhan punya sifat kejam seperti itu, manusia sudah punah dari awal. Kita tidak akan pernah ada di muka bumi ini. Tuhan sangat mengasihi manusia, selalu merindukan semuanya untuk bertobat dan selamat. Bahkan untuk itu Tuhan merelakan Yesus untuk mengambil alih semua hukuman yang harusnya jatuh bagi kita dan membawa kita masuk ke dalam gerbang keselamatan.

Menahan diri agar tetap lemah lembut memang tidak mudah. Berbagai situasi dan kondisi bisa dengan cepat membuat amarah kita meluap. Ada begitu banyak orang-orang sulit disekitar kita yang akan terus memprovokasi kita lewat perkataan maupun perbuatan mereka. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh terpancing dan harus tetap tenang. Jika anda merasa takut, serahkan semuanya kepada Tuhan yang memelihara kita. Miliki hati yang sepenuhnya berpegang pada Tuhan, miliki hati yang lembut yang siap dibentuk, dan cepat atau lambat dunia akan melihat bahwa ajaran kasih dalam Kekristenan sungguh mampu membawa perbedaan ke arah yang lebih baik.

Kemarahan bukanlah produk Kerajaan Surga dan itu tidak akan pernah membawa manfaat
READ MORE - renugan harian kristen Kemarahan

renungan harian kristen Air Hidup

Ayat bacaan: Wahyu 21:6
=======================
Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan."

air hidupBagi orang yang bekerja banyak menggunakan komputer dan internet seperti saya, listrik menjadi sebuah kebutuhan yang sangat vital. Pekerjaan bisa terkendala apabila lisrik mati walau setengah hari saja. Beberapa hari yang lalu saya baru saja mengalami pemadaman dari pagi jam 8 hingga jam 2 subuh keesokan harinya karena ada perbaikan jaringan dan kabel di jalan menuju rumah. Akibatnya pekerjaan pun tertunda dan saya menjadi repot keesokan harinya. Tetapi ada sebuah kebutuhan lain yang ternyata jauh lebih penting dibandingkan listrik, yaitu kebutuhan kita akan air. Air tiba-tiba berhenti mengalir, dan sayangnya saya belum sempat mengisi bak mandi sampai penuh. Kami tidak bisa mencuci, tidak bisa masak, tidak bisa mandi atau buang air kecil. Di saat demikian, saya pun tengah keracunan makanan dan butuh bolak balik ke toilet. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya saya harus menahan sakit perut karena ketidakadaan air ini. Air merupakan sebuah kebutuhan hidup yang sangat penting dan mutlak dibutuhkan oleh semua mahluk hidup. Tidak akan ada kehidupan tanpa air. Hewan akan mati, tanaman akan mati, kita pun demikian. Air pun merupakan sumber kesuburan, dimana mahluk hidup akan tumbuh dan berkembang. Peradaban demi peradaban biasanya dimulai di pinggiran sungai atau lokasi dimana ada air.

Jika kebutuhan air dalam hidup ini begitu penting, apalagi kerohanian kita. Kita sering lupa untuk memberi minum jiwa dan roh kita dan hanya sibuk memberi minum tubuh kita saja. Seringkali kerohanian kita mengalami kekeringan, jiwa kita terasa haus dan jika dibiarkan, kita pun bisa mengalami dehidrasi rohani. Disaat seperti ini kita mudah goyah, kehilangan kepercayaan, kehilangan harapan, kehilangan motivasi dan semangat, yang kemudian digantikan oleh rasa kuatir, takut, cemas, ragu yang bisa membuat emosi kita labil sehingga kemudian kitapun kehilangan sukacita. Tuhan tahu kebutuhan penting itu, dan Dia pun telah menyediakannya bagi kita. Tuhan ingin mengingatkan kita semua hari ini bahwa Yesus menyediakan mata air kehidupan yang akan mengalir tanpa henti dalam hidup setiap orang percaya yang patuh kepadaNya. Dari kisah perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di tengah hari terik di tepi sumur kita bisa menemukan pesan Tuhan ini. Lihatlah apa kata Yesus pada perempuan Samaria tersebut. "Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." (Yohanes 4:10). Tuhan SUDAH menyediakan air hidup itu, air yang bisa menyegarkan kehausan rohani kita untuk selama-lamanya. "Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (ay 4). Yesus menyediakan itu semua bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Selanjutnya kita melihat janji Yesus tentang air kehidupan. "Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." (Yohanes 7:37-38). Betapa baiknya Kristus menuntun kita ke mata air kehidupan, dimana Allah akan menghapus air mata dari kita semua. (Wahyu 7:17). Dan betapa indahnya Yerusalem baru, dimana sungai air kehidupan yang jernih bagai kristal mengalir keluar dari tahta Kristus (Wahyu 22:1). Kemudian kembali ditegaskan bahwa mempelai wanita (kita, orang-orang percaya) dipersilahkan mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma (Wahyu 22:17). Dalam Wahyu 21:6 tertulis:  "Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan." (Wahyu 21:6). Yesus adalah Alfa dan Omega, dan Dia memberikan air kehidupan dengan cuma-cuma. Itu artinya Yesus akan selalu memberi minum siapapun yang datang kepadaNya dengan air mata kehidupan tanpa henti selamanya.

Di rumah kita air bisa tiba-tiba berhenti mengalir. Apabila musim kemarau tiba kita bisa kesulitan, jika jalur ke mata air atau perusahaan air minum terganggu kita pun tidak mendapatkan air. Bahkan mungkin pada suatu ketika sebagian besar manusia bisa mengalami kekeringan.Tidak demikian halnya dengan air kehidupan yang bersumber dari Kristus. Saya bersyukur akan kasih Kristus yang tidak henti-hentinya mengalir dalam hidup ini bagai air yang segar dan baru setiap hari. Selama kita berjalan bersama Kristus, selama itu pula air kehidupan mengalir dalam hidup kita tanpa macet atau tersendat,  dan air hidup itu akan senantiasa jernih. Air kehidupan Kristus akan selalu lebih dari cukup untuk menyegarkan jiwa kita, memuaskan dahaga roh kita, dan oleh karenanya kerohanian kita tidak akan kekeringan. Let the fountain of life flows into our soul until the eternity.

Segarkan jiwa dan roh setiap hari dengan air hidup yang mengalir tanpa henti dari Kristus
READ MORE - renungan harian kristen Air Hidup

Sabtu, 03 Maret 2012